Thursday, 23 April 2015

Menjadikan Hidup Di Dunia Manfaat Untuk Akhirat

Perkongsian
4 Rejab 1436@23/4/2015

Menjadikan Hidup Di Dunia Manfaat Untuk Akhirat

Memang agama Islam itu, kalau dapat difahami dan mampu mengamalkannya, dia akan membawa pada keselamatan dunia dan Akhirat. Di sinilah keistimewaan ajaran Islam yang tidak ada pada agama lain.

Apabila kita telah dapat menerima bahawa dunia Akhirat mesti seimbang atau agama dan dunia itu mesti seimbang, bagaimana hendak mengimbangkannya? Apa maksud dari seimbang di antara dunia dan Akhirat? Apakah maksud seimbang di sini? Kalau menurut ukuran bilangan, kalau satu sama-sama satu. Kalau dua, sama-sama dua. Atau kalau ia jenis yang dapat diukur untuk dibagi seimbang, kalau satu kaki itu hendaknya kita bagi sama-sama enam inci. Atau kalau dua orang yang berkongsi dagang, mereka mengeluarkan modal yang sama banyaknya, kemudian apabila mendapat untung dua ratus rupiah, maka hendaknya setiap orang mendapat seratus rupiah? Atau kalau barang yang akan ditimbang yang beratnya satu kg maka batu timbangannya harus satu kg juga beratnya. Barulah ia seimbang. Ya! Kalau terjadi kepada benda sama benda. Jenisnya sama seperti yang disebutkan di atas tadi, yang sama jenis maka kita bisa dan dapat menerimanya.

Kalau ukuran panjang, akan di bagi, maka haruslah sama panjangnya. Jangan sampai ada yang lebih, ada yang kurang. Dia jadi tidak seimbang. Kalau jenis timbangannya sama beratny, Begitulah seterusnya.
Kemudian, apakah yang dimaksud dengan seimbang di antara dunia dan Akhirat, atau di antara agama dengan dunia itu seperti ukuran benda-benda tadi? Kalau kita kata ya, tanggapan itu adalah satu kesalahan atau kehilafan, karena kedua persoalan yang hendak diseimbangkan ini tidak sama sifatnya. Dunia adalah alam syahadah atau alam benda atau alam fisik. Sedangkan Akhirat adalah alam ghaib yang waktunya tidak terbatas. Alam
syahadah iaitu dunia ini waktunya terbatas atau ada keakhirnya.

Agama, ia bersifat maknawiyah dan rohaniah sedangkan dunia bersifat maddiah iaitu fisikal dan material. Maknawiah dan rohaniah dapat ditangkap dan dirasakan oleh akal dan jiwa atau roh, sedangkan dunia yang bersifat maddiah itu dapat dirasa oleh mata dan sentuhan lahir. Dia bersifat hissiah, dan kalau begitu kedudukannya, kedua-duanya tidak sama. Satu bersifat material atau maddiah dan yang satu lagi bersifat maknawiah dan rohaniah. Dua perkara ( persoalan) yang tidak sama ini akan diseimbangkan, mana yang dapat digunakan dengan mengikut hukum logik atau mana yang dapat diukur menggunakan teori ilmu akal atau ilmu mantik. Kalau kita lakukan juga, ini sangat tidak tepat. Dia merupakan satu kesalahan yang besar. Satu kesilapan yang akan berakibat pada kerusakan yang besar sekali. Dia akan merusakkan peranan agama itu sendiri.

Oleh sebab itu kalau hendak mengimbangkan di antara dunia dengan Akhirat atau di antara agama dengan dunia, harus berhati-hati. Pada dunia ada campur tangan manusia, tapi agama, manusia tidak dapat campur tangan langsung. Dia adalah hak mutlak Allah Taala. Oleh sebab itu sekali lagi saya katakan berhati-hatilah.

Kerana demikian itu maka disini apakah yang dimaksud dengan seimbang ? Dan bagaimana hendak menyeimbangkannya di antara dua persoalan yang berlainan sifatnya itu? Adakah ia berbeza di antara satu sama lain? Atau satu sama lain itu terserap menjadi satu? Kalau kedua-duanya bersifat material atau fisikal tentu dapat dilihat. Tapi satu bersifat material, kelihatan dan bisa dirasakan dan satu lagi bersifat maknawiah dan rohaniah, tidak kelihatan oleh mata dan tidak dapat dirasa oleh sentuhan kerana dia bukan bersifat hissiah. Kalau kelihatan atau dapat dilihat maka mudah dan suka untuk menyukat (membezakan) sejauh mana yang dikatakan seimbang itu. InsyaAllah bersambung.

Wassalam

No comments:

Post a Comment

Secebis Pesanan untuk Anak-Anak Ibu

Buat anak-anak yang Ibu dikasihi, Abg Faaz Mikael⁩, Kak Leen Humaira⁩ & Hana Sofea… Tidaklah Ibu melahirkanmu dengan niat untuk menjadik...